Budaya Positif Guru Penggerak
Budaya Positif
Sekolah merupakan tempat anak-anak mendapatkan pendidikan formal, juga sebagai tempat dimana mereka dapat mengembangkan nilai-nilai, norma dan perilaku mereka. Budaya sekolah yang positif adalah unsur utama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaranyang efektif, pertumbuhan pribadi dan perkembangan sosial.Keharmonisan dan keamanan merupakan salah satu ciri utama budaya positif di lingkungan sekolah. Sekolah yang memiliki budaya positif, dapat dipastikan bahwa siswa merasa aman dan nyaman. Mereka tidak takut pada diri mereka sendiri, dapat berpendapat dengan bebas. Ini menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan perkembangan emosiaonal yang sehat.Budaya positif di sekolah mendorong kolaborasi dan kerja sama. Siswa diajarkan untuk bekerjasama dengan tim, mendukung satu sama laindan berbagi pengetahuan. Ini membantu siswa mengembangankan ketrampilan sosial yang penting, seperti kemempuan mendengarkan, berbicara dan menghargai kontribusi orang lain. Kolaborasi juga memungkinkan guru untuk merancang pengalaman pembelajaran yang lebih bervariasi dan menarik.
Budaya positif di sekolah merangkul keragaman, ini mencakup keragaman budaya, ras, agama, orientasi seksual dan kemampuan. Siswa diajarkan untuk mrnghargai perbedaan dan menghormati keunikan setiap individu. Ini menciptakan lingkungan yang inklusif dimana semua siswa merasa diterima dan dihormatiBudaya sekolah yang positif diperkuat oleh etika dan nilai-nilai positif guru. Guru dan staf sekolah berperan sebagai model peran yang baik dalam hal etika, integritas dan moralitas. Siswa diajarkan untuk menghormati hak orang lain, berperilaku dengan baik dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Ini mencerminkan nilai-nilai positif yang akan membimbing siswa sepanjang hidup mereka.
Lingkungan sekolah yang positif memberdayakan siswa mengambil inisiatif dalam pembelajaran mereka. Mereka merasa memiliki kendali atas pendidikan mereka dan diarahkan untuk mengembangkan kemandirian dalam belajar. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memeberikan alat dan ketrampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.Dengan berkomunikasi secara terbuka, guru, siswa dan orang tua merasa nyaman berkomunikasi satu sama lain. Hal ini memungkinkan informasi penting seperti perkembangan akademik siswa, masalah perilaku, atau kebutuhan khusus untuk disampaikan dengan efektif. Komunikasi yang terbuka juga menciptakan kepercayaan dan kolaborasi yang lebih baik antara semua pihak.
Budaya positif di sekolah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman serta berpihak pada siswa agar mereka dapt bekembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab sesuai profil pelajar pancasila sehingga membantu siswa mengembangkan ketrampilan sosial, nilai-nilai kebajikan serta kemandirian dalam belajar.
Bagian dari budaya positip meliputi ; 1).disiplin positip dan nilai-nilai kebajikan universal, 2).teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi, 3). keyakinan kelas, 4). kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas, 5). restitusi-lima posisi kontrol 6). segitiga restitusi
Disiplin merupakan kemampuan memerintah diri sendiri dalam mengontrol dan menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai dengan penuh tanggung jawab, tanpa terperintah orang lain. Nilai-nilai yang kita hargai adalah nilai kebajikan ( sifat positif manusia ) yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai oleh setiap individu, yaitu nilai-nilai dalamprofil pelajar pancasila.
Dalam teori motivasi perilaku manusia ada 2 hal,secara eksternal dan internal 1). untuk menghidari ketidaknyamanan/hukuman, 2). untuk mendapatkan imbalan dari orang lain/institusi, 3). untuk menghargai diri sendiri ( motivasi internal, tujuan disiplin positif ). Motivasi dalam diri murid masih banyak berasal dari luar, bahwa mereka menghindari ketidaknyamanan/hukuman serta untuk mendapatkan penghargaan. Yang seharusnya secara sadar dari diri mereka sendiri akan pentingnya disiplin positif yang selalu diterapkan dan terus ditingkatkan sebagai bentuk pembiasaan-pembiasan yang positif. Terdapat perbedaan pada hukuman dengan konsekuensi bahwa hukuman bersifat memaksa, bentuk konsep diri yang buruk, sesuatu yang menyakitkan, marah merasa dipermalukan, tidak dihargai, anak membenci kedisiplinan. Sedangkan konsekuensi bersifat stimulus/tanggapan, konsep diri yang baik, dapat menyesuaikan diri, kehilangan hak merasa tidak nyaman diasingkan untuk sementara. Restitusi merupakan proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter lebih kuat. Restitusi memiliki 9 ciri, yaitu ; 1). bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan. 2). memperbaiki hubungan. 3). tawaran bukan paksaan. 4). restitusi menuntun untuk melihat kedalam diri. 5). restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan. 6). restitusi diri adalah cara yang paling baik. 7). restitusi fokus pada karakter bukan tindakan. 8). restitusi fokus pada solusi. 9).restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya
Peraturan-peraturan yang dikomunikasikan secarah dua arah dengan murid sehingga tercipta sebuah keyakinan pada kelas maupun sekolah, bahwa keyakinan kelas berisi nilai-nilai kebajikan yang akan dituju bersama. Dari keyakinan kelas yang diterapkan dengan sangat baik memunculkan sebuah lingkungan positif, dari lingkungan positif berubah menjadi budaya positif yang muncul akibat dari pembiasaan-pembiasaan positip yang diterapkan setiap hari.
Dalam menciptakan perilaku yang positif, guru harus memahami lima konsep kebutuhan dasar manusia yang terdiri dari ; 1). kebutuhan untuk bertahan hidup. 2). kasih sayang dan rasa diterima. 3). kebebasan. 4). kesenangan. 5). penguasaan. Kebutuhan untuk bertahan hidup, kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makanan,air, tempat tinggal, pakaian, keamanan dll. Kebutuhan kasih sayang dan rasa diterima, kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan rasa cinta , kasih sayang, dan hubungan sosial. Kebutuhan kebebasan, kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan otonomi, pilihan, dan kontrol atas kehidupan sendiri. Kebutuhan kesenangan, kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan. Kebutuhan penguasaan, kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan rasa berdaya, mampu dan berpengaruh.Guru perlu memahami kebutuhan dasar manusia untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif. Dengan memahami kebutuhan dasar manusia, guru dapat membantu murid untuk memenuhi kebutuhannya dan berkembang secara optimal.
Untuk menciptakan budaya positif, ada lima posisi kontrol menurut Gossen, 1). penghukum. 2). pembuat rasa bersalah. 3). teman. 4). pemantau. 5). manajer. Pertama, posisi kontrol penghukum, seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal, guru yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat menekan murid lebih dalam. Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil yaitu dengan cara dia, ciri khas penghukum adalah nada tinggi dengan mata melotot, jari menunjuk-nunjuk, menghardik. Konsekuensi logis dari akibat penerapan peran kontrol penghukum adalah murid menjadi marah dan pendendam. Kedua, posisi kontrol pembuat rasa bersalah. Pada posisi ini guru akan bersuara lebih lembut, menggunakan keheningan yang membuat rasa tidak nyaman, bersalah, rendah diri. Dengan ciri khas nada suara yang memelas, halus, sedih, konsekuensi logis dari akibat dari penerapan peran kontrol pembuat rasa bersalah adalah murid akan merasa bersalah. Murid akan merasa menjadi orang yang gagal , sehingga menjadi tertekan yang dapat menyakiti diri sendiri atau orang lain. Ketiga, posisi kontrol teman, pada posisi ini guru tidak akan menyakiti murid, namun berupaya tetap mengontrol murid melalui pendekatan persuasif. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang, pada posisi ini dapat membawa dampak positif dengan adanya hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Ciri khas posisi kontrol teman adalah nada suara yang ramah, akrab dan bercanda, konsekuensi logis dari penerapan posisi kontrol teman adalah murid akan merasa senang dan akrab dengan guru, juga murid akan merasa ketergantungan jika mendapat masalah akan mengandalkan bantuan guru tersebut. Keempat, posisi kontrol pemantau. Pada posisi ini guru mengawasi dan mengontrol perilaku berdasarkan peraturan-peraturan dan konsekuensi. Seorang pemantau mengandalkan perhitungan, catatan dan data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang, posisi pemantau berawal dari stimulus-respon yang menunjukkan tanggung jawab guru terhadap murid. Dengan ciri khas nada suara datar dan bahasa tubuh formal. Konsekuesi logis dari penerapan posisi kontrol pemantau adalah murid memehami konsekuensi yang harus dijalankan karena telah melanggar peraturan sekolah/kelas, guru tidak menunjukkan emosi yang berlebihan tetapi murid merasa dibuat tidak nyaman, guru terus memantau murid pada saat mengerjakan tugas, melakukan kegiatan. Kelima, posisi kontrol manajer yaitu posisi dimana guru berbuat sesuatu bersama murid, mempersilahkan murid mempertanggung jawabkan perilakunya, mendukung murid agar menemukan solusi atas permasalahan sendiri. Seorang manajer, mengajak murid menganalisa kebutuhannya dirinya, bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Dalam membantu murid atas segala bentuk perilakunya yang bermasalah, diperlukan metode yang baik, yang disebut segitiga restitusi. Segitiga Restitusi adalah proses untuk menciptakan suatu keadaan bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompoknya dengan karakter lebih kuat. Segitiga restitusi ada 3 tahap, yaitu ; 1). menstabilkan identitas, dimana guru membuat anak yang merasa gagal karena berbuat salah menjadi positif terhadap dirinya. Guru akan berkata bahwa ; berbuat salah itu hal yang manusiawi. Tidak ada manusia yang sempurna, bapak/ibu juga pernah berbuat salah, kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini, bapak/ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah dan benar, bapak/ibu tertarik untuk menyelesaikan permasalahan ini. 2). validasi kebutuhan, dimana guru membantu murid mengenali kebutuhan dasar yang ingin dipenuhinya ketika melakukan kesalahan itu. Pada dasarnya setiap tindakan manusia tujuannya adalah memenuhi kebutuhan dasar. Guru akan berkata bahwa ; kamu bisa saja akan melakukan hal yang lebih buruk, tapi kamu tidak akan melakukannya kan, kamu pasti punya alasan mengapa melakukannya, apa yang penting bagi kamu, apakah kamu mau melakukan hal yang lebih baik lagi besok. 3). menanyakan keyakinan, dimana anak melihat kesalahannya dihubungkan dengan norma sosial dan nilai-nilai yang mendasari manusia berinteraksi dengan orang lain. Guru akan berkata ; apa nilai-nilai yang kita percaya di sekolah/kelas, nilai-nilai universal apa yang telah kita sepakati ?, kelas yang ideal itu seperti apa sih ?, Kamu ingin jadi anak seperti apa ?, apa yang kamu rasakan ketika kamu melakukan itu, kamu ingin menjadi orang yang seperti apa ?
Sebagai seorang guru penggerak menekankan pentingnya guru untuk menjadi penggerak bagi budaya positif disekolah, guru harus menjadi contoh yang baik bagi murid serta menciptakan lingkungan yang positif, aman dan nyaman untuk menumbuhkan karakter anak yang baik
Aksi Nyata Modul 1.4
https://drive.google.com/file/d/1B_9Cg81HTW5w1t2UKXKxjB95OonXb8bh/view?usp=sharing
Komentar
Posting Komentar