KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

Oleh

Andik Rahmad Saleh

 

Berikut Rangkuman Koneksi Antar Materi Modul 3.1

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran berdasarkan 14 pertanyaan:

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Jawaban

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan, terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso sung Tulodo (menjadi teladan/inspirasi). Seorang pemimpin haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin haruslah mampu menarik partikel-partikel di sekitarnya untuk bisa diajak bersinergi mencapai sebuah visi sekolah. Ing Madyo Mangun Karso (menciptakan prakarsa dan ide), seorang pemimpin harus bisa bekerja sama dengan muridnya. Seorang pemimpin haruslah mampu mempererat hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melanggar etika jalur pendidikan. Tut Wuri Handayani (memberi dorongan/semangat), seorang pemimpin harus bisa menjadi motivator atau pemberi semangat bagi muridnya, Misalnya mendorong kinerja murid untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Sebagai pemimpin pembelajaran tentunya pengambilan keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat berpihak pada murid. Lingkungan belajar yang kondusif, positif, aman, dan nyaman akan memengaruhi pengambilan keputusan. Arah dan tujuan pembelajaran yang terencana juga memengaruhi pengambilan keputusan. Lebih baik lagi sebelum mengambil keputusan perlu dilakukan pengujian keputusan. Berdasarkan 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Jawaban:

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid, ini sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam pengambilan suatu keputusan diperlukan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Jawaban:

Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah agar murid dapat mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Dengan proses coaching murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya. Coaching yang sudah dilakukan pada modul 2 sebelumnya jika ditinjau dari coach menggali informasi dari coachee kemudian coachee menemukan solusi dari masalahnya sendiri sudah maksimal dilakukan. Namun, belum memuat 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Akan tetapi pada sesi coaching seorang coachee sudah mampu menggali potensinya dan itu sudah luar biasa.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Jawab:

Ketika guru dihadapkan pada sebuah situasi, guru diharuskan mengambil sebuah keputusan sementara kondisi sosial emosionalnya tidak dalam kondisi baik. Guru perlu melakukan Latihan Kesadaran Penuh (mindfullness) menggunakan teknik STOP. Jika hal tersebut sudah dilakukan, tentu saja guru mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat tentunya dengan dilakukan dengan Langkah-langkah yang benar dan berulang-ulang.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Jawaban:

Nilai Mandiri, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang mengharuskan kita bertindak dalam waktu yang tidak terlalu panjang, dadakan. Nilai Reflektif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang harus kita cermati. Nilai Inovatif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang mengharuskan kita jeli, luwes, mahir dalam mengambil suatu keputusan. Nilai Kolaboratif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang perlu pertimbangan orang banyak. Berpihak pada murid, tentunya keputusan yang akan diambil keputusan yang berpihak pada murid agar tidak ada yang dirugikan.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Jawaban:

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif, positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan ada perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Dengan demikian pengambilan keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan murid. Keputusan yang diambil untuk membangun budaya positif di sekolah dengan menyusun kesepakatan kelas. Hal ini dapat membantu proses pembelajaran lebih mudah dan nyaman.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban:

Ada, dalam kehidupan sehari-hari kita pastinya pernah dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita untuk mengambil suatu keputusan yang tepat apakah situasi dilema etika atau bujukan moral. Maka, sangat penting bagi kita untuk bisa mengidentifikasi pengujian paradigma benar lawan benar, terdapat 4 paradigma:

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Jawaban:

Sebagai pendidik sudah tepat bagi kita mengambil keputusan yang memberikan kemerdekaan terhadap belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid kita. Pengambilan keputusan menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah. Terlebih lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Jika keputusan yang kita ambil berpihak pada murid tentu saja secara tidak langsung telah memerdekakan murid-murid kita. Namun tetap berpegang pada prinsip, paradigma, dan langkah pengambilan keputusan.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Jawaban:

Sebagai pemimpin pembelajaran keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang tepat yaitu keputusan yang menuntun segala kodrat pada murid, murid diberi kebebasan untuk berinovasi dan berkreativitas. Dalam menuntun seorang pendidik memberikan tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah sehingga di masa depan akan terbentuk murid yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinnekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif dalam mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Jawaban:

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang artinya di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid harus tertanam dalam diri dan menjiwai nilai-nilai tersebut oleh seorang pendidik terlebih dalam mengambil sebuah keputusan.

Coaching menjadi salah satu proses menuntun kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah agar murid dapat mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya.

Pengambilan keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan murid. Dalam mewujudkan budaya positif ini pendidik memegang peranan penting.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Jawab:

Setelah menganalisis beberapa kasus maka saya lebih memahami konsep-konsep tentang dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Ada ternyata dalam pengambilan keputusan melalui beberapa konsep agar pengambilan keputusan tetap mengarah pada nilai-nilai universal.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Jawab:

Sejauh ini saya belum mengalaminya. Semoga saya bisa menjadi pendidik yang bisa menjadi panutan, serta memberikan hal positif terhadap teman sejawat.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Jawab: Berpengaruh karena lebih mengetahui dan memahami akan pengambilan keputusan yang berbasi nilai-nilai universal.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Jawab:

Penting, khususnya dalamnya pengambilan keputusan sebagai seorang pendidik karena perlu pertimbangan yang matang dan bijaksana.

 

Komentar